Perang Dagang Dari China dan Amerika Serikat Berimbas Ada Tarif Tambahan

Perang dagang merupakan suatu permasalahan ekonomi yang terjadi pada negara tertentu, sehingga terjadilah hambatan dengan menaikan tambahan tarif untuk membalas kepada keputusan masalah perdagangan pihak lawan. Jadwal kenaikan harga barang impor nantinya akan diberlakukan mulai tanggal satu September 2019 pukul 11.01 WIB, serta 04.01 GMT.

Kebijakan proteksionisme mengakibatkan terjadinya perang dagang, keputusan ini diberlakukan beberapa negara tujuanya agar barang lokalnya terlindungi.Hal tersebut menjadikan tarif tambahan harus diseimbangkan guna agar memudahkan pengembalian lapangan kerja yang berasal dari luar negeri. Jika permasalahan ini terus berjalan secara berkepanjangan maka akan ada perlambatan laju ekonomi.

Penyebab Adanya Perang Dagang

Seperti biasa AS selalu tampil sebagai negara pengganggu yang terkenal dengan adikuasanya, begitu juga dengan penyebab perang dagang ini. Dalam ranah internasional kawasan tersebut masyarakatnya banyak yang makmur. Oleh karena itu banyak negara kecil lainnya yang ikut gabung demi kemakmuran. Sehingga Amerika senantiasa kembali menjadi paling hebat di dunia.

Meskipun terjadi perang dagang, Amerika menaikan tarif impor tetapi bukan berarti perekonomian China menjadi terhambat. Harian lokal seperti Zhong Sheng masih terus beroprasi melayani pembelinya. Bahkan keberadaan produk dari negara Sakura ini juga semakin terkenal dan memiliki banyak investasi.

Perang Dagang Bermula Dari Amerika Serikat

Awal mula penyebab terjadinya perang dagang yaitu Amerika Serikat pertamanya menambahkan tarif barang inpor yang dari China. Kenaikan harga ini kabarnya akan mulai berlaku sejak pukul 11.01 WIB dan 04.01 GMT satu September 2019. Nilai tarif untuk import negara sakura berkisar US$125 miliar atau lima belas persen dar keseluruhan yang dikirim.

Pembalasan Dari China Pemicu Perang Dagang

China melakukan pembalasan kepada Amerika Serikat dengan tarif lima persen untuk bahan minyak mentahnya. Pemicu tersebut terjadi untuk pertama kalinya, sehingga dua negara itu saling perang dagang. Padahal untuk satu tahun yang lalu tidak ada masalah semacam ini. Tak heran apabila banyak harga barang naik lima belas persen, untuk jenis barang berupa mainan, telepon seluler, computer, pakaian dan laptop.

Kenaikan harga di atas kabarnya akan diberlakukan mulai tanggal 15 Desember 2019. Rencananya Donald Trump selaku presiden Amerika Serikat, akan menaikan tarif impor kepada China senilai lima persen atau setara dengan US$550 miliar. Dibalik itu semua negara sakura tersebut juga membalas kepada AS atas barang yang dikirimnya. Perang dagang ini mengakibatkan masyarakat rugi karena hargabeberapa produk akan dinaikan.

Kenaikan Harga Akibat Perang Dagang

Akibat adanya perang dagang antara Amerika Serikat dengan China maka menyebabkan terjadinya kenaikan harga. Terlibatnya negara Sakura dalam keputusan yang tidak adil menjadikannya memberi bantahan, karena tidak setuju. Sehingga mereka membalas dan mengkritisi perlakuan AS supaya mau membatalkan tambahan tarif yang diberlakukan. Padahal keduanya belum lama berunding masalah ini, akan tetapi neoisasi belum selesai.

Kabarnya keputusan naiknya tarif tambahan akibat perang dagang, untuk China tetap akan dilaksanakan mulai 1 September 2019 hari Minggu. Pemerintahan Trump sudah lama sekitar 2 tahunan sangat berusaha membuat negara tersebut merasa tertekan dengan kebijakan besar mengenai subsidi industri, kekayaan intelektual,  mekaksa transfer teknologi ke perusahaan lawan serta akses pasarnya.

Tanggapan publik mengenai naiknya tarif sampai dua puluh persen atau setara dengan US$250 miliar, nantinya akan dikumpulkan oleh Kantor Perwakilan Dagang AS, hingga beberapa hari menjelang tanggal 20 September 2019. Banyak yang berharap perang dagang seperti ini agar cepat selesai sehingga harga produk normal kembali.

Read More

Sekilas Tentang Film Anak Garuda

Satu lagi film inspiratif yang akan segera hadir di layar lebar tanah air, yaitu film Anak Garuda. Film ini mengisahkan perjuangan anak-anak tidak mampu yang menempuh pendidikan di Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Batu, Malang, Jawa Timur. Sekolah gratis ini didirikan oleh Julianto Eka Putra, seorang wirausahawan sukses yang berniat tulus untuk membantu anak-anak yang tak mampu menempuh pendidikan formal.

Tak hanya mengisahkan perjuangan para siswa di sekolah ini untuk memutus kemiskinan pada keluarga mereka, film Anak Garuda juga menceritakan jatuh bangun seorang Julianto Eka Putra untuk membantu sebanyak mungkin anak-anak dhuafa dari berbagai latar belakang budaya dan agama dan menjadi wirausahawan. Hasil dari bisnis mereka kemudian akan kembali digunakan untuk membantu jalannya sekolah tersebut.

Film ini terinspirasi dari cerita nyata 7 orang siswa angkatan pertama Sekolah SPI, yaitu Sheren, Wayan, Sayyidah, Dila, Yohana, Robert, dan Olfa. Kini mereka telah sukses menjalankan divisi bisnis masing-masing di bawah arahan sang mentor, Julianto, atau akrab disapa Koh Jul. Naskah Anak Garuda ditulis oleh Alim Sudio dan diarahkan oleh Sutradara Faozan Rizal. Beberapa waktu lalu film ini telah menyelesaikan proses syuting di kota Batu, Malang, hingga ke Eropa.

Tak hanya harus berjuang untuk menempuh pendidikan, 7 tokoh utama film ini juga harus menempuh terjalnya jalan untuk meretas mimpi menjadi wirausahawan yang berhasil. Butterfly Pictures yang menggarap film ini sebenarnya adalah divisi bisnis paling anyar sekolah SPI. Divisi tersebut memiliki bidang kerja produksi film yang digagas dan dikelola oleh lulusan Sekolah SPI. Actor kawakan Verdi Solaiman juga turut berpartisipasi pada penggarapan film ini.

Yohana, salah satu alumni SPI yang juga Executive Director Butterfly Picturess sekaligus Co Produser film ini  menjelaskan bahwa para murid SPI didominasi oleh kalangan tidak punya atau yatim piatu. Sejak kecil mereka telah berdampingan dengan kepahitan hidup, menjadi sasaran perundungan, malu dan minder akan latar belakangnya, terpinggirkan, serta terpuruk. Namun sekolah SPI mengubah mereka menjadi manusia-manusia yang tangguh, yaitu anak-anak garuda dengan sayap yang kuat dan melesat menatap sang Surya.

Lebih jauh menurut Yohana, film ini juga mengangkat cerita mereka menyesuaikan diri dalam menghadapi perbedaan baik agama, ras, suku, hingga menyembuhkan trauma dan luka batin karena masa lalunya yang suram. Mereka bertransformasi menjadi pribadi yang bernilai setelah belajar cara mengontrol dirinya sendiri dan mengatasi masalah yang dihadapi. Mereka bahkan sanggup memperjuangkan cita-cita hingga ke benua biru Eropa. Inilah sebabnya proses syuting juga akan dilakukan di beberapa kota di sana.

Actor lawas Verdi Solaiman sendiri yang didapuk menjadi produser film Anak Garuda mengatakan sangat bersemangat. Pemain sinetron Dunia Terbalik tersebut juga menyatakan bahwa kisah inspiratif para siswa SPI ini harus disampaikan ke seluruh penjuru tanah air. Alasan dirinya menerima ajakan kerjasama ini karena merasa kagum dengan kisah perjuangan para alumni sekolah tersebut. Mereka berjuang sekuat tenaga mulai dari bawah untuk menjadi orang sukses dan terlepas dari belenggu kemiskinan.

Dalam film ini diceritakan pula bagaimana para alumni pertama ini melanjutkan sekolah tersebut seandainya sang Inisiator, Koh Jul tak lagi bersama mereka. Sekolah tersebut tak boleh kembali lagi ke titik nol dan mereka mempunyai tanggungjawab untuk melanjutkan perjuangan sekolah tersebut, bekerjasama menjadi pemimpin bagi adik-adik kelas mereka. Film yang menginspirasi ini cocok disaksikan untuk semua umur dan kalangan.

Read More