Sekilas Tentang Film Anak Garuda

Satu lagi film inspiratif yang akan segera hadir di layar lebar tanah air, yaitu film Anak Garuda. Film ini mengisahkan perjuangan anak-anak tidak mampu yang menempuh pendidikan di Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Batu, Malang, Jawa Timur. Sekolah gratis ini didirikan oleh Julianto Eka Putra, seorang wirausahawan sukses yang berniat tulus untuk membantu anak-anak yang tak mampu menempuh pendidikan formal.

Tak hanya mengisahkan perjuangan para siswa di sekolah ini untuk memutus kemiskinan pada keluarga mereka, film Anak Garuda juga menceritakan jatuh bangun seorang Julianto Eka Putra untuk membantu sebanyak mungkin anak-anak dhuafa dari berbagai latar belakang budaya dan agama dan menjadi wirausahawan. Hasil dari bisnis mereka kemudian akan kembali digunakan untuk membantu jalannya sekolah tersebut.

Film ini terinspirasi dari cerita nyata 7 orang siswa angkatan pertama Sekolah SPI, yaitu Sheren, Wayan, Sayyidah, Dila, Yohana, Robert, dan Olfa. Kini mereka telah sukses menjalankan divisi bisnis masing-masing di bawah arahan sang mentor, Julianto, atau akrab disapa Koh Jul. Naskah Anak Garuda ditulis oleh Alim Sudio dan diarahkan oleh Sutradara Faozan Rizal. Beberapa waktu lalu film ini telah menyelesaikan proses syuting di kota Batu, Malang, hingga ke Eropa.

Tak hanya harus berjuang untuk menempuh pendidikan, 7 tokoh utama film ini juga harus menempuh terjalnya jalan untuk meretas mimpi menjadi wirausahawan yang berhasil. Butterfly Pictures yang menggarap film ini sebenarnya adalah divisi bisnis paling anyar sekolah SPI. Divisi tersebut memiliki bidang kerja produksi film yang digagas dan dikelola oleh lulusan Sekolah SPI. Actor kawakan Verdi Solaiman juga turut berpartisipasi pada penggarapan film ini.

Yohana, salah satu alumni SPI yang juga Executive Director Butterfly Picturess sekaligus Co Produser film ini  menjelaskan bahwa para murid SPI didominasi oleh kalangan tidak punya atau yatim piatu. Sejak kecil mereka telah berdampingan dengan kepahitan hidup, menjadi sasaran perundungan, malu dan minder akan latar belakangnya, terpinggirkan, serta terpuruk. Namun sekolah SPI mengubah mereka menjadi manusia-manusia yang tangguh, yaitu anak-anak garuda dengan sayap yang kuat dan melesat menatap sang Surya.

Lebih jauh menurut Yohana, film ini juga mengangkat cerita mereka menyesuaikan diri dalam menghadapi perbedaan baik agama, ras, suku, hingga menyembuhkan trauma dan luka batin karena masa lalunya yang suram. Mereka bertransformasi menjadi pribadi yang bernilai setelah belajar cara mengontrol dirinya sendiri dan mengatasi masalah yang dihadapi. Mereka bahkan sanggup memperjuangkan cita-cita hingga ke benua biru Eropa. Inilah sebabnya proses syuting juga akan dilakukan di beberapa kota di sana.

Actor lawas Verdi Solaiman sendiri yang didapuk menjadi produser film Anak Garuda mengatakan sangat bersemangat. Pemain sinetron Dunia Terbalik tersebut juga menyatakan bahwa kisah inspiratif para siswa SPI ini harus disampaikan ke seluruh penjuru tanah air. Alasan dirinya menerima ajakan kerjasama ini karena merasa kagum dengan kisah perjuangan para alumni sekolah tersebut. Mereka berjuang sekuat tenaga mulai dari bawah untuk menjadi orang sukses dan terlepas dari belenggu kemiskinan.

Dalam film ini diceritakan pula bagaimana para alumni pertama ini melanjutkan sekolah tersebut seandainya sang Inisiator, Koh Jul tak lagi bersama mereka. Sekolah tersebut tak boleh kembali lagi ke titik nol dan mereka mempunyai tanggungjawab untuk melanjutkan perjuangan sekolah tersebut, bekerjasama menjadi pemimpin bagi adik-adik kelas mereka. Film yang menginspirasi ini cocok disaksikan untuk semua umur dan kalangan.

Read More

Film James Bond akan rilis April 2020

Film seri franchise ke-25 James Bond akan dirilis pada Bulan April 2020. Kali ini si Agen Rahasia playboy itu akan beraksi di bawah judul No Time To Die. Sebagaimana yang dipublikasikan sampai saat ini film tersebut masih dalam tahap produksi yang sempat tersendat beberapa kali karena berbagai halangan.

Salah satu yang merupakan tantangan cukup berat bagi film ini adalah peristiwa ledakan yang menghancurkan set film di Pinewood Studios Inggris di Bulan Juni beberapa waktu lalu. Musibah tersebut menimbulkan kerusakan cukup berat serta satu orang kru mengalami cedera ringan.

Selain itu Daniel Craig, sang Aktor utama pemeran James Bond juga mengalami kecelakaan saat syuting dan cedera di bagian pergelangan kaki sehingga harus dioperasi. Craig sendiri mengaku bahwa No Time To Die adalah film terakhirnya berperan sebagai James Bond.

Sebagai tokoh villain atau antagonis adalah actor pemeran Fredie Mercury yang diganjar piala Oscar karena totalitasnya, Rami Malek. Setelah film James Bond sebelumnya yang dirilis 8 tahun lalu, pada seri ke-25 kali ini Anda dapat menyaksikan Ralph Fiennes sebagai atasan James Bond serta penampilan Lea Seydoux, aktris populer asal Prancis.

Tak hanya masalah musibah ledakan atau cederanya, Daniel Craig, penundaan produksi film seri waralaba ini ternyata juga dipicu perseteruan terkait scenario film. Pada bulan September tahun lalu sutradara film ini juga sempat mengalami pergantian dari Oscar Danny Boyle beralih kepada Cary Fukunaga.

Jadwal tayang film ini akhirnya disepakati tanggal 3 April 2020 di Inggris dan 5 hari kemudian di Amerika Serikat.

Rami Malek mengajukan syarat untuk berpartisipasi pada film James Bond

Malek mengaku tak begitu saja menyetujui tawaran untuk bermain sebagai teroris pada film Bond 25 itu. Dia mengatakan mengajukan beberapa syarat yang harus dilaksanakan oleh rumah produksi. Setelah sempat merasa ragu karena tak berniat menjadi karakter antagonis yang berhubungan dengan sebuah budaya atau agama. Misalnya teroris berlatar belakang Arab mengingat asal-usulnya yang berdarah Timur Tengah.

Dalam diskusinya dengan Cary Fukunaga, Malek menegaskan kalau dia tidak ingin memerankan penjahat yang akan mengidentikkan dirinya dengan agama atau ideology tertentu. Malek bahkan bersedia melepaskan kesempatan itu bila alasan Fukunaga merekrutnya adalah karena hal itu.

Karena jaminan bahwa karakter antagonis tersebut tak akan dihubung-hubungkan dengan agama atau kultur tertentu dia pun setuju menerima peran itu. Hingga kini actor berdarah Mesir tersebut belum menjelaskan secara rinci karakter yang akan diperankannya. Dirinya hanya mengatakan bahwa karakter teroris yang dibawakannya bukanlah sebagaimana yang banyak dikira orang.

Walaupun warga negara Amerika, namun actor kelahiran 1981 tersebut adalah imigran. Kedua orangtuanya asli dari Mesir dan pindah ke Amerika Serikat saat Malek masih kecil. Dalam sebuah wawancara Malek mengaku bahwa dirinya masih merasa sebagai orang Mesir. Dirinya tumbuh dewasa tanpa melupakan asal-usulnya. Malek juga mengatakan bahwa dirinya dibesarkan dengan budaya Mesir dan hingga kini masih merasa terikat dengan kultur serta masyarakat di sana. Rumornya Daniel Craig dan Rami Malek yang akan saling berhadapan dalam film No Time To Die tersebut akan berduel di Jamaika mengingat syuting film James Bond itu dilakkan di negara tersebut. Negara ini juga cukup istimewa bagi penulis novel tentang agen rahasia ini karena karakter James Bond diciptakannya di sana pada tahun 1953.

Read More